Jumat, 27 Februari 2026

Perlu Ada Langkah Strategis Agar 

MBG Tidak Jadi Beban Fiskal


Tribun Rakyat  - Jurnalis


Jumat, 27 Februari 2026 - 19:51 WIB


AAA







TribunRakyat– Diskusi publik bertajuk “Dilema APBN 2026: Antara Nafsu Politik Populis dan Ancaman Ambruknya Fiskal” yang digelar di kantor INFID, Jumat (27/2/2026) sore, memunculkan beragam  pandangan kritis terhadap arah kebijakan anggaran negara tahun depan.


Salah satu sorotan utama adalah program unggulan pemerintah, MBG, yang dinilai sulit untuk dimoratorium dalam waktu dekat meski menuai perdebatan fiskal.


Dalam forum tersebut , Direktur Eksekutif Botani Bahari Indonesia, Riza V. Tjahjadi, menilai pemerintah kemungkinan besar tetap akan melanjutkan program MBG. Namun, ia mengusulkan adanya “sisipan strategis” agar program tersebut tidak sekadar menjadi beban fiskal, melainkan juga pengungkit partisipasi rakyat.



“Kalau moratorium sulit, ya lanjutkan saja. Tapi beri ruang perluasan partisipasi, terutama bagi petani kecil dan siswa sekolah penerima manfaat,” ujarnya.


Ia menyebut pendekatan ini sebagai lubricant oil approach—ibarat oli pelumas yang membuat mesin kebijakan berjalan lebih halus dan inklusif.Kurangi Impor, Perkuat Hortikultura LokalRiza mendorong Kementerian Pertanian untuk lebih agresif mempromosikan tanaman hortikultura berdaya hasil tinggi.


Langkah ini dinilai dinilai Riza penting untuk menekan impor pangan non-hewani yang kerap membebani devisa negara, terutama untuk kebutuhan menu MBG.


Baca Juga :  Prabowo Usulkan Pembangunan 50 Jalan Tol Baru, Ini Daftarnya  ‎

Menurutnya, geliat di lapangan sebenarnya sudah mulai tampak. Sejumlah petani skala kecil kini membudidayakan cabai gerombol, paprika manis berukuran besar, hingga ubi jenis Yukan yang praktis dikupas dan langsung dikonsumsi seperti bengkuang.


“Produksinya bisa ‘super wah’ kalau didorong serius. Ini bukan sekadar soal pangan, tapi juga kedaulatan dan efisiensi anggaran,” tegasnya.


Siswa Diajak Bertani, APBN Tanggung Biaya

Tak hanya petani, Riza juga mengusulkan agar siswa sekolah penerima MBG mulai dikenalkan pada praktik bertani. Skemanya bisa melalui kegiatan ekstrakurikuler di lahan sekolah atau pemanfaatan pekarangan rumah.Seluruh biaya pengolahan lahan dan benih, menurutnya, harus dianggarkan melalui APBN, bukan dibebankan ke APBD. Usulan tersebut diharapkan masuk dalam perumusan APBN berikutnya.


“Ini investasi pendidikan sekaligus ketahanan pangan. Anak-anak belajar, produksi pangan lokal tumbuh,” katanya.


Tanaman “Bandel” untuk Urban Farming,

Riza turut memaparkan, daftar tanaman hortikultura yang dikenal “bandel”—minim perawatan dan relatif tahan terhadap serangan hama—sehingga cocok untuk pemula maupun konsep urban farming, yakni;.

Sayuran daun: kangkung, bayam, sawi hijau/caisim, daun bawang, dan seledri.Sayuran buah dan umbi: cabai rawit, terong, tomat ceri, dan ubi jalar.Tanaman aromatik pengusir hama: serai (citronella), mint, kemangi, dan rosmarin.

Tanaman buah/obat: lidah buaya serta jeruk nipis atau jeruk purut.


Baca Juga :  Waduh! Dari 14 SPPG yang Telah Beroperasi di Bukittinggi, Baru Dua yang Kantongi SLHS


Ia juga menekankan pentingnya strategi sederhana seperti penggunaan tanaman refugia (marigold atau kenikir) untuk menarik predator alami hama, menjaga jarak tanam agar tidak lembap, serta menerapkan rotasi tanaman. Pupuk organik yang memadai, tambahnya, akan memperkuat daya tahan tanaman.


Kiprah Tiga Dekade

Riza V. Tjahjadi sendiri merupakan Direktur Eksekutif Botani Bahari Indonesia. Sejak 1988, ia aktif dalam gerakan pertanian alternatif dan organik, termasuk terlibat sebagai observer dalam negosiasi Hak Atas Kecukupan Pangan di FAO, serta berbagai forum internasional seperti UNEP dan WTO.Ia juga konsisten mengampanyekan pelestarian benih lokal dan memprogramkan pertukaran petani Asia sebagai bagian dari penguatan jaringan pangan berkelanjutan.


Di tengah tarik-menarik antara populisme politik dan ketahanan fiskal, gagasan memperluas partisipasi rakyat melalui pertanian dinilai bisa menjadi jalan tengah: program tetap berjalan, namun dengan fondasi produksi lokal yang lebih kuat dan berkelanjutan.

( august suzana)


https://tribunrakyat.co/perlu-ada-langkah-strategis-agar-mbg-tidak-jadi-beban-fiskal/






Lampiran



Kepada Yth.

Pimpinan Lembaga/Organisasi 


[Terlampir]



di Tempat


Dengan hormat,


Pada tahun 2026, Indonesia menghadapi siklus jatuh tempo raksasa sebesar Rp833,96 triliun, dengan pembayaran bunga utang saja diperkirakan mencapai Rp599,4 triliun (naik 8,6% dari tahun sebelumnya). Di tengah ruang fiskal yang kian mencekik, pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto saat ini tengah memacu kebijakan populis berskala raksasa yakni Makan Bergizi Gratis (Rp335 T), Koperasi Merah Putih (Rp83 T), dan Sekolah Rakyat (Rp24,9 T). Jika ditotal dengan program ketahanan pangan dan 3 juta rumah, kebutuhan fiskal melampaui Rp500 triliun. Ambisi ini mengakibatkan terjadinya “kanibalisme anggaran”, di mana dana transfer daerah dan alokasi dana desa dipangkas.


INFID mendorong kebijakan pembangunan yang adil dan berkesinambungan. Termasuk APBN 2026 harus menjawab kebutuhan fiskal bagi proses dan pencapaian hasil pembangunan yang adil dan berkesinambungan. INFID memandang bahwa ketidakmampuan pemerintah dalam mengerem syahwat politik populis di tengah ruang fiskal yang sempit adalah ancaman nyata bagi keadilan sosial dan kedaulatan ekonomi nasional. Diskusi ini hadir untuk membedah bagaimana APBN 2026 seharusnya dikelola tanpa mengorbankan masa depan SDM dan ketahanan fiskal negara termasuk agar pembiayaan anggaran melalui utang di tengah posisi rasio pajak dan pertumbuhan ekonomi yang rendah tidak membuat makin sempitnya ruang fiskal untuk pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan. 


Berkenaan dengan hal tersebut, kami mengundang Saudara/i sebagai partisipan dalam Ngobrol Bareng “Dilema APBN 2026: Antara Nafsu Politik Populis dan Ancaman Ambruknya Fiskal” secara offline pada: 


Hari/Tanggal : Jumat, 27 Februari 2026


Waktu : Pukul 15.00 WIB - selesai (dilanjutkan dengan buka puasa bersama)


Tempat : Rumah INFID, Jl. Jati Padang Raya Raya Kav.3 No.105, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan dan Zoom Meeting INFID) 


Kami sangat menantikan kehadiran dan partisipasi Sdr/i. Untuk konfirmasi kehadiran dapat mengisi https://bit.ly/Konfirmasi-DiskusiAPBN-INFID paling lambat Rabu, 25 Februari 2026. Terima kasih atas perhatian dan kerja sama yang baik.


Hormat kami,


Siti Khoirun Ni’mah

Direktur Eksekutif INFID




--

Rahmatul Amalia Nur Ahsani 

Program Assistant for Building Resilience Against Violent Extremism 

International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) 

Jl. Jatipadang Raya Kav.3 No. 105 Pasar Minggu

Jakarta Selatan, 12540

Email: rahma@infid.org





o0o

 

Minggu, 22 Februari 2026

Dua Dekade HPSN , Realitas di Lapangan Masih Memprihatinkan


Minggu, 22 Februari 2026

08:09 WIB




Metropagi – DALAM diam yang menggugah, peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 21 Februari 2026 menjadi momentum refleksi sekaligus panggilan nurani.

Tahun ini, peringatan HPSN terasa berbeda. Ada rasa sedih yang tak bisa disembunyikan—tergambar dari wajah terkini dengan kasus lama tahun 2015 dan botol minum non-plastik yang telah setia digunakan sejak 2021. Simbol kecil, namun menyimpan pesan besar: perjuangan mengurangi sampah belum usai.

HPSN bukan sekadar seremoni tahunan. Ia lahir dari tragedi longsornya TPA Leuwigajah pada 2005 yang merenggut banyak nyawa, menjadi pengingat bahwa persoalan sampah adalah persoalan kemanusiaan.

Sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, harapan besar ditanamkan: pengelolaan sampah harus bertransformasi dari sekadar kumpul-angkut-buang menjadi sistem yang berkelanjutan, berbasis pengurangan dan daur ulang.

“Namun, hampir dua dekade berlalu, realitas di lapangan masih memprihatinkan. Di berbagai daerah, TPA  masih  banyak yang overload, sistem pemilahan belum berjalan optimal, dan kesadaran kolektif belum tumbuh merata,” ujar Riza V. Tjahjadi, anggota Dewan Pengarah dan Pertimbangan Pengelolaan Sampah Nasional (DP3SN) Pokja I Kebijakan, Monitoring & Evaluasi.

Di sisi lain, lanjut Riza, gunungan sampah seolah menjadi pemandangan yang dianggap biasa, padahal dampaknya luar biasa—dari pencemaran tanah dan air hingga ancaman krisis kesehatan.


Tarik Ulur Kepentingan Politik dan Ekonomi 

Di tingkat global, situasi tak kalah kompleks. Upaya merumuskan traktat internasional untuk mengendalikan polusi plastik di bawah naungan United Nations belum mencapai titik temu final. Draf perjanjian plastik dunia masih menghadapi tarik-ulur kepentingan politik dan ekonomi, termasuk sikap keras dari Amerika Serikat yang menolak draf final Plastic Treaty. Padahal, polusi plastik telah menjadi ancaman lintas batas negara—mengalir melalui sungai, mencemari laut, dan memasuki rantai makanan manusia.

Di tengah situasi tersebut, masyarakat tidak boleh kehilangan harapan. Justru dari langkah-langkah kecillah perubahan besar bermula. Mengenakan kembali kaus lama adalah bentuk perlawanan terhadap budaya konsumsi berlebihan. Membawa botol minum sendiri adalah komitmen mengurangi plastik sekali pakai. Tindakan sederhana, tetapi berdampak nyata bila dilakukan secara masif.


Ajakan Terbuka Bagi Masyarakat 

Momentum HPSN 2026 harus menjadi ajakan terbuka bagi seluruh elemen masyarakat—rumah tangga, sekolah, komunitas, pelaku usaha, hingga pemerintah daerah—untuk memperkuat kolaborasi. Pemilahan sampah dari rumah harus menjadi kebiasaan, bukan pengecualian. Bank sampah perlu didukung dan diperluas. Industri didorong bertanggung jawab atas kemasan produknya melalui prinsip extended producer responsibility (EPR).

“Kita juga perlu membangun budaya baru: budaya sadar sampah. Budaya yang menempatkan pengurangan (reduce) sebagai prioritas utama, diikuti guna ulang (reuse) dan daur ulang (recycle). Tidak cukup hanya membersihkan, tetapi juga mengubah pola pikir dan gaya hidup,” tegas Riza.

Riza, alumni dan mantan aktivis Kampus Tercinta Sekolah Tinggi Publisistik ( STP) ini, lebih lanjut mengatakan, HPSN 21 Februari 2026 bukan hanya hari peringatan, melainkan hari perenungan. Apakah kita ingin terus mewariskan krisis lingkungan kepada generasi mendatang?Ataukah kita memilih menjadi generasi yang berani berubah?



Mari jadikan kepedulian terhadap sampah sebagai gerakan bersama. Mulai hari ini, mulai dari diri sendiri. Kurangi plastik sekali pakai. Pilah sampah dari rumah. Dukung kebijakan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Karena bumi yang bersih bukan sekadar impian—ia adalah tanggung jawab kita bersama. ( august sss)


https://metropagi.com/dua-dekade-hpsn-realitas-di-lapangan-masih-memprihatinkan/








o0o

 

Sabtu, 14 Februari 2026



PAN Indonesia Desak Remediasi Total Sungai Cisadane dan Penutupan Permanen Gudang Pestisida di Tangsel


Tribun Rakyat  - Jurnalis


Jumat, 13 Februari 2026 - 12:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy




A A A

 

Tribunrakyat.co— Dampak kebakaran gudang penyimpanan pestisida di Tangerang Selatan terus menimbulkan kekhawatiran serius. Dalam beberapa hari terakhir, kematian ikan secara massal di aliran Sungai Cisadane memicu dugaan kuat terjadinya pencemaran bahan beracun berbahaya.


Menanggapi situasi tersebut, PAN (Pesticide Action Network) Indonesia menyampaikan sikap tegas melalui siaran persnya: pemerintah harus segera mengambil langkah cepat, terukur, dan transparan untuk memulihkan kualitas Sungai Cisadane sekaligus menindak tegas pihak yang bertanggung jawab.

Dugaan Cemaran Propofenos dan Cypermethrin.


Berdasarkan informasi yang beredar, Koordinator PAN Indonesia, Riza Valentino Tjahyadi, dua jenis pestisida diduga terlibat dalam insiden ini, yakni Propofenos dan Cypermethrin. Keduanya termasuk dalam kategori Kelas II (berbahaya sedang) menurut klasifikasi WHO.





Cypermethrin merupakan piretroid sintetis tipe II dengan tingkat toksisitas tinggi (LD50 250 mg/kg). Zat ini bekerja sebagai neurotoksin yang menyerang sistem saraf pusat dan perifer. Selain berdampak pada kesehatan manusia jika terpapar dalam jumlah tertentu, cypermethrin sangat beracun bagi ikan, lebah, dan invertebrata air, bahkan dikategorikan sebagai polutan serius bagi lingkungan perairan.


Sementara itu, Propofenos adalah insektisida organofosfat berspektrum luas yang juga memiliki tingkat bahaya sedang. Meski lazim digunakan dalam sektor pertanian, kedokteran hewan, dan pengendalian hama, kedua zat ini berpotensi menimbulkan kerusakan ekosistem jika terjadi kebocoran atau pengelolaan yang tidak sesuai standar keamanan.


Hingga kini belum ada data resmi yang menjelaskan seberapa besar konsentrasi racun yang mencemari sungai serta berapa lama residu tersebut akan bertahan di perairan. Ketidakpastian ini dinilai berbahaya bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada Sungai Cisadane.


Baca Juga :  BMKG : Waspadai Tiga Megathrust ‎


Rekomendasi Bioremediasi: Solusi Ramah Lingkungan


Sejumlah kajian ilmiah, lanjut Riza, pihaknya merekomendasikan bioremediasi sebagai solusi efektif dan berkelanjutan dalam menangani pencemaran pestisida di sungai.


Metode ini memanfaatkan mikroorganisme—seperti bakteri Pseudomonas dan Bacillus—serta jamur untuk mendegradasi senyawa beracun menjadi zat yang lebih aman bagi lingkungan.


Pendekatan yang dapat diterapkan , ditekankan Riza, antara lain:

Bioaugmentasi, yaitu memasukkan mikroba khusus yang telah dikembangkan di laboratorium untuk mempercepat proses penguraian polutan.


Biostimulasi, yakni menambahkan nutrisi seperti nitrogen dan fosfor guna meningkatkan aktivitas mikroba alami yang sudah ada di sungai.

Fitoremediasi, menggunakan tanaman air atau makrofit untuk menyerap kontaminan sekaligus merangsang aktivitas mikroba di sekitar akar.


Pemanfaatan biofilm dan sistem rekayasa, seperti lahan basah buatan atau rakit apung tanaman, untuk membantu proses pemulihan kualitas air.Pendekatan gabungan antara bioaugmentasi untuk percepatan awal dan biostimulasi untuk keberlanjutan jangka panjang dinilai mampu memberikan hasil optimal.


” Selain lebih ramah lingkungan, metode ini juga relatif hemat biaya dibandingkan penanganan kimia konvensional,” tegas Riza.


Namun lanjut Riza, efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi lingkungan seperti suhu, pH, kadar oksigen, serta tingkat konsentrasi polutan.


Empat Tuntutan Tegas kepada Pemerintah


Dalam pernyataan resminya, PAN Indonesia menyampaikan empat tuntutan utama:


Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH segera mengarahkan perusahaan terkait untuk melakukan remediasi menyeluruh hingga mutu air Sungai Cisadane kembali memenuhi baku standar kualitas lingkungan.


Baca Juga :  Sumbar Tanggap Darurat! ‎


Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Pupuk dan Pestisida, melakukan peninjauan ulang izin Propofenos dan Cypermethrin. Jika terbukti membahayakan, izin harus dicabut serta distribusi dan penggunaannya dihentikan.


Pemerintah pusat dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan menutup secara permanen lokasi gudang penyimpanan pestisida yang terbakar tersebut.


Pemerintah pusat dan daerah di seluruh Indonesia memastikan seluruh tempat penyimpanan pestisida memenuhi standar keamanan ketat guna menjamin keselamatan lingkungan dan masyarakat sekitar.


Sebagai bagian dari jaringan global Pesticide Action Network bersama PAN Asia Pacific, PAN Europe, dan jaringan regional lainnya, PAN Indonesia menegaskan bahwa perlindungan lingkungan tidak boleh dikompromikan demi kepentingan apa pun.



Sungai adalah Sumber Kehidupan


Sungai Cisadane bukan sekadar aliran air, melainkan sumber kehidupan bagi ribuan warga yang memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari, perikanan, hingga pertanian. Jika pencemaran ini tidak ditangani secara serius dan transparan, dampaknya dapat meluas pada kesehatan masyarakat serta keberlanjutan ekosistem.


“Remediasi harus segera dilakukan dan dilakukan secara terbuka. Jangan sampai tragedi ini menjadi preseden buruk dalam pengawasan dan pengelolaan pestisida di Indonesia,” tukas Riza.


Kini publik menunggu langkah nyata pemerintah. Kesigapan, ketegasan, dan komitmen terhadap keselamatan lingkungan menjadi kunci untuk mengembalikan Sungai Cisadane sebagai sungai yang bersih, sehat, dan aman bagi generasi mendatang.( august suzana)



https://tribunrakyat.co/pan-indonesia-desak-remediasi-total-sungai-cisadane-dan-penutupan-permanen-gudang-pestisida-di-tangsel/








PAN Indonesia Pimpin Desakan Remediasi Total Sungai Cisadane dan Penutupan Permanen Gudang Pestisida di Tangsel


admin_exposkotabyadmin_exposkota 13 Februari 2026




PAN Indonesia Pimpin Desakan Remediasi Total Sungai Cisadane dan Penutupan Permanen Gudang Pestisida di Tangsel


exPosKota.com— Pesticide Action Network Indonesia (PAN Indonesia) tampil di garis depan menyuarakan penyelamatan lingkungan menyusul kebakaran gudang penyimpanan pestisida di Tangerang Selatan yang memicu dugaan pencemaran serius di Sungai Cisadane.


Kematian ikan secara massal dalam beberapa hari terakhir menjadi alarm keras bagi masyarakat. PAN Indonesia menilai peristiwa ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan indikasi kuat adanya paparan bahan beracun berbahaya yang mengancam ekosistem dan kesehatan warga.


Koordinator PAN Indonesia, Riza Valentino Tjahyadi, menegaskan pemerintah tidak boleh lamban.


“Langkah cepat, terukur, dan transparan harus segera dilakukan. Sungai Cisadane harus dipulihkan total, dan pihak yang bertanggung jawab wajib ditindak tegas,” tegasnya.


Dugaan Cemaran Berbahaya


PAN Indonesia mengungkap dugaan keterlibatan dua jenis pestisida dalam insiden tersebut, yakni Propofenos dan Cypermethrin. Keduanya masuk kategori Kelas II (berbahaya sedang) menurut klasifikasi WHO.


Cypermethrin dikenal sebagai piretroid sintetis tipe II dengan tingkat toksisitas tinggi (LD50 250 mg/kg). Zat ini bekerja sebagai neurotoksin yang menyerang sistem saraf pusat dan perifer. Dalam lingkungan perairan, cypermethrin sangat beracun bagi ikan, lebah, dan organisme air lainnya, sehingga dikategorikan sebagai polutan serius.


Sementara itu, Propofenos merupakan insektisida organofosfat berspektrum luas. Meski lazim digunakan dalam pertanian dan pengendalian hama, kebocoran atau pengelolaan yang tidak sesuai standar berpotensi merusak ekosistem secara luas.


Hingga kini, belum ada data resmi mengenai konsentrasi racun di sungai maupun durasi residu bertahan di perairan. Ketidakpastian ini, menurut PAN Indonesia, memperbesar risiko bagi warga yang menggantungkan hidupnya pada Sungai Cisadane.


PAN Indonesia Rekomendasikan Bioremediasi


Sebagai solusi konkret, PAN Indonesia mendorong penerapan bioremediasi—metode ramah lingkungan yang memanfaatkan mikroorganisme seperti bakteri Pseudomonas dan Bacillus serta jamur untuk menguraikan senyawa beracun menjadi zat yang lebih aman.






Pendekatan yang direkomendasikan meliputi:


Bioaugmentasi, memasukkan mikroba khusus hasil pengembangan laboratorium untuk mempercepat penguraian polutan.

Biostimulasi, menambahkan nutrisi seperti nitrogen dan fosfor guna meningkatkan aktivitas mikroba alami.

Fitoremediasi, menggunakan tanaman air atau makrofit untuk menyerap kontaminan sekaligus merangsang aktivitas mikroba di sekitar akar.


Pemanfaatan biofilm dan sistem rekayasa seperti lahan basah buatan atau rakit apung tanaman.


Menurut Riza, kombinasi bioaugmentasi untuk percepatan awal dan biostimulasi untuk keberlanjutan jangka panjang dapat memberikan hasil optimal.


“Metode ini lebih ramah lingkungan dan relatif hemat biaya dibanding penanganan kimia konvensional,” ujarnya.


Empat Tuntutan Tegas PAN Indonesia


Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan komitmen terhadap keselamatan publik, PAN Indonesia menyampaikan empat tuntutan utama:


Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH segera mengarahkan perusahaan terkait melakukan remediasi menyeluruh hingga mutu air Sungai Cisadane kembali memenuhi baku standar kualitas lingkungan.


Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Pupuk dan Pestisida, meninjau ulang izin Propofenos dan Cypermethrin. Jika terbukti membahayakan, izin harus dicabut dan distribusi dihentikan.

Pemerintah pusat dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan menutup permanen lokasi gudang penyimpanan pestisida yang terbakar.


Pemerintah pusat dan daerah memastikan seluruh tempat penyimpanan pestisida di Indonesia memenuhi standar keamanan ketat.

Sebagai bagian dari jaringan global Pesticide Action Network bersama PAN Asia Pacific dan PAN Europe, PAN Indonesia menegaskan bahwa perlindungan lingkungan tidak boleh dikompromikan demi kepentingan apa pun.







Sungai Bukan Sekadar Aliran Air

Bagi ribuan warga, Sungai Cisadane adalah sumber kehidupan—untuk kebutuhan sehari-hari, perikanan, hingga pertanian. Jika pencemaran ini tidak ditangani secara serius dan transparan, dampaknya dapat meluas pada kesehatan masyarakat serta keberlanjutan ekosistem.


Kini, sorotan publik tertuju pada langkah nyata pemerintah. Di tengah kekhawatiran yang meluas, PAN Indonesia berdiri sebagai garda terdepan, memastikan tragedi ini tidak menjadi preseden buruk dalam pengawasan dan pengelolaan pestisida di Indonesia.


Remediasi harus total. Penutupan harus permanen. Dan Sungai Cisadane harus kembali bersih—demi generasi hari ini dan yang akan datang. ( august suzana)



https://exposkota.com/pan-indonesia-pimpin-desakan-remediasi-total-sungai-cisadane-dan-penutupan-permanen-gudang-pestisida-di-tangsel/






Siaran Pers

PAN Indonesia



LAMPIRAN 

Sekilas info 

Bioremediasi Propofenos dan Cypermetrin 

Dari berbagai sumber 


Propofenos  

Propofenos diklasifikasikan sebagai  

Kelas II: Berbahaya Sedang (moderately hazardous). 

Jenisnya Organofosfat berspektrum luas 

Bioremediasi propofenos (pestisida organofosfat) di sungai memanfaatkan bakteri 

dan jamur untuk mendegradasi senyawa beracun menjadi produk sampingan yang 

tidak berbahaya, menawarkan solusi ramah lingkungan dan hemat biaya 

.Metode yang efektif meliputi bioaugmentasi (memperkenalkan mikroba khusus) 

dan biostimulasi (menambahkan nutrisi untuk meningkatkan mikroba asli) untuk 

menguraikan pestisida persisten.  

Pendekatan Bioremediasi Utama untuk Propofenos di Sungai: 

Degradasi Mikroba: Galur bakteri tertentu (misalnya, Pseudomonas, Bacillus) dan 

jamur digunakan untuk memetabolisme polutan organik. 

Bioaugmentasi: Memasukkan strain mikroba khusus, yang ditumbuhkan di 

laboratorium, atau diisolasi langsung ke dalam air sungai atau sedimen untuk 

mempercepat degradasi polutan. 

Biostimulasi: Menambahkan nutrisi (nitrogen, fosfor) atau oksigen ke sungai untuk 

meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas mikroba asli yang ada dan yang 

mengonsumsi pestisida. 

Fitoremediasi: Menggunakan tumbuhan air, seperti alga atau makrofit, untuk 

menyerap dan mengakumulasi kontaminan, atau merangsang mikroba di zona akar 

untuk mendegradasi kontaminan tersebut. 

Biofilm & Sistem Rekayasa: Memanfaatkan biofilm mikroba pada permukaan 

(seperti batuan atau substrat buatan yang direkayasa) untuk memusatkan dan 

mendegradasi polutan. Lahan basah buatan atau tempat tidur apung yang dibantu 

tanaman juga dapat secara efektif mengolah air sungai yang terkontaminasi.  

Manfaat dan Pertimbangan: 

Ramah lingkungan & Hemat biaya: Bioremediasi menyediakan alternatif 

berkelanjutan dan berbiaya rendah dibandingkan perawatan kimia konvensional. 

Efisiensi: Jika dioptimalkan, proses mikroba dapat secara signifikan mengurangi 

polutan organik. 

Keterbatasan: Kondisi lingkungan (suhu, pH) harus sesuai untuk kelangsungan 

hidup mikroba, dan degradasi lengkap dapat memakan waktu, tergantung pada 

konsentrasi dan kompleksitas polutan.  


Untuk hasil yang optimal, pendekatan gabungan—seperti bioaugmentasi untuk aksi 

cepat dan biostimulasi untuk keberlanjutan jangka panjang—sering 

direkomendasikan.

  

Cypermethrin 

Berdasarkan Klasifikasi Pestisida menurut Bahaya yang Direkomendasikan 

WHO, maka Cypermethrin diklasifikasikan sebagai  

Kelas II: Berbahaya Sedang.  

Rincian penting terkait klasifikasi ini meliputi: 

Tingkat Toksisitas: Ini adalah piretroid sintetis tipe II dengan potensi toksisitas tinggi 

(LD50 250 mg/kg), yang bertindak sebagai neurotoksin, memengaruhi sistem saraf 

pusat dan perifer. 

Dampak

 Lingkungan: Zat ini dianggap sebagai polutan laut serius dan sangat 

beracun bagi kehidupan perairan, termasuk ikan dan invertebrata air. 

Alfa-Sipermetrin: Alfa-sipermetrin, isomer sipermetrin yang lebih aktif, juga diakui dalam evaluasi FAO/WHO, dengan profil toksisitas akut sedang hingga tinggi yang serupa. 

Kegunaan: Secara luas digunakan sebagai insektisida spektrum luas di bidang 

pertanian, kedokteran hewan (ektoparasitida), dan kesehatan masyarakat.  

Meskipun diklasifikasikan sebagai zat yang cukup berbahaya, zat ini sangat 

beracun bagi ikan, lebah, dan invertebrata air.  


_____ 


PAN Indonesia adalah salah satu dari anggota  PAN Asia and the Pacific;  PAN lainnya adalah PAN Philippine. PAN Japan, PAN China, Tenaga Nita Malaysia, Consumer Grup of South Korea, PAN Thailand, dsb. Secara global terdapat PAN North America, PAN Europe,  PAN Africa, PAN Latin America.






o0o







Arsip Blog