Sabtu, 14 Februari 2026



PAN Indonesia Desak Remediasi Total Sungai Cisadane dan Penutupan Permanen Gudang Pestisida di Tangsel


Tribun Rakyat  - Jurnalis


Jumat, 13 Februari 2026 - 12:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy




A A A

 

Tribunrakyat.co— Dampak kebakaran gudang penyimpanan pestisida di Tangerang Selatan terus menimbulkan kekhawatiran serius. Dalam beberapa hari terakhir, kematian ikan secara massal di aliran Sungai Cisadane memicu dugaan kuat terjadinya pencemaran bahan beracun berbahaya.


Menanggapi situasi tersebut, PAN (Pesticide Action Network) Indonesia menyampaikan sikap tegas melalui siaran persnya: pemerintah harus segera mengambil langkah cepat, terukur, dan transparan untuk memulihkan kualitas Sungai Cisadane sekaligus menindak tegas pihak yang bertanggung jawab.

Dugaan Cemaran Propofenos dan Cypermethrin.


Berdasarkan informasi yang beredar, Koordinator PAN Indonesia, Riza Valentino Tjahyadi, dua jenis pestisida diduga terlibat dalam insiden ini, yakni Propofenos dan Cypermethrin. Keduanya termasuk dalam kategori Kelas II (berbahaya sedang) menurut klasifikasi WHO.





Cypermethrin merupakan piretroid sintetis tipe II dengan tingkat toksisitas tinggi (LD50 250 mg/kg). Zat ini bekerja sebagai neurotoksin yang menyerang sistem saraf pusat dan perifer. Selain berdampak pada kesehatan manusia jika terpapar dalam jumlah tertentu, cypermethrin sangat beracun bagi ikan, lebah, dan invertebrata air, bahkan dikategorikan sebagai polutan serius bagi lingkungan perairan.


Sementara itu, Propofenos adalah insektisida organofosfat berspektrum luas yang juga memiliki tingkat bahaya sedang. Meski lazim digunakan dalam sektor pertanian, kedokteran hewan, dan pengendalian hama, kedua zat ini berpotensi menimbulkan kerusakan ekosistem jika terjadi kebocoran atau pengelolaan yang tidak sesuai standar keamanan.


Hingga kini belum ada data resmi yang menjelaskan seberapa besar konsentrasi racun yang mencemari sungai serta berapa lama residu tersebut akan bertahan di perairan. Ketidakpastian ini dinilai berbahaya bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada Sungai Cisadane.


Baca Juga :  BMKG : Waspadai Tiga Megathrust ‎


Rekomendasi Bioremediasi: Solusi Ramah Lingkungan


Sejumlah kajian ilmiah, lanjut Riza, pihaknya merekomendasikan bioremediasi sebagai solusi efektif dan berkelanjutan dalam menangani pencemaran pestisida di sungai.


Metode ini memanfaatkan mikroorganisme—seperti bakteri Pseudomonas dan Bacillus—serta jamur untuk mendegradasi senyawa beracun menjadi zat yang lebih aman bagi lingkungan.


Pendekatan yang dapat diterapkan , ditekankan Riza, antara lain:

Bioaugmentasi, yaitu memasukkan mikroba khusus yang telah dikembangkan di laboratorium untuk mempercepat proses penguraian polutan.


Biostimulasi, yakni menambahkan nutrisi seperti nitrogen dan fosfor guna meningkatkan aktivitas mikroba alami yang sudah ada di sungai.

Fitoremediasi, menggunakan tanaman air atau makrofit untuk menyerap kontaminan sekaligus merangsang aktivitas mikroba di sekitar akar.


Pemanfaatan biofilm dan sistem rekayasa, seperti lahan basah buatan atau rakit apung tanaman, untuk membantu proses pemulihan kualitas air.Pendekatan gabungan antara bioaugmentasi untuk percepatan awal dan biostimulasi untuk keberlanjutan jangka panjang dinilai mampu memberikan hasil optimal.


” Selain lebih ramah lingkungan, metode ini juga relatif hemat biaya dibandingkan penanganan kimia konvensional,” tegas Riza.


Namun lanjut Riza, efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi lingkungan seperti suhu, pH, kadar oksigen, serta tingkat konsentrasi polutan.


Empat Tuntutan Tegas kepada Pemerintah


Dalam pernyataan resminya, PAN Indonesia menyampaikan empat tuntutan utama:


Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH segera mengarahkan perusahaan terkait untuk melakukan remediasi menyeluruh hingga mutu air Sungai Cisadane kembali memenuhi baku standar kualitas lingkungan.


Baca Juga :  Sumbar Tanggap Darurat! ‎


Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Pupuk dan Pestisida, melakukan peninjauan ulang izin Propofenos dan Cypermethrin. Jika terbukti membahayakan, izin harus dicabut serta distribusi dan penggunaannya dihentikan.


Pemerintah pusat dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan menutup secara permanen lokasi gudang penyimpanan pestisida yang terbakar tersebut.


Pemerintah pusat dan daerah di seluruh Indonesia memastikan seluruh tempat penyimpanan pestisida memenuhi standar keamanan ketat guna menjamin keselamatan lingkungan dan masyarakat sekitar.


Sebagai bagian dari jaringan global Pesticide Action Network bersama PAN Asia Pacific, PAN Europe, dan jaringan regional lainnya, PAN Indonesia menegaskan bahwa perlindungan lingkungan tidak boleh dikompromikan demi kepentingan apa pun.



Sungai adalah Sumber Kehidupan


Sungai Cisadane bukan sekadar aliran air, melainkan sumber kehidupan bagi ribuan warga yang memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari, perikanan, hingga pertanian. Jika pencemaran ini tidak ditangani secara serius dan transparan, dampaknya dapat meluas pada kesehatan masyarakat serta keberlanjutan ekosistem.


“Remediasi harus segera dilakukan dan dilakukan secara terbuka. Jangan sampai tragedi ini menjadi preseden buruk dalam pengawasan dan pengelolaan pestisida di Indonesia,” tukas Riza.


Kini publik menunggu langkah nyata pemerintah. Kesigapan, ketegasan, dan komitmen terhadap keselamatan lingkungan menjadi kunci untuk mengembalikan Sungai Cisadane sebagai sungai yang bersih, sehat, dan aman bagi generasi mendatang.( august suzana)



https://tribunrakyat.co/pan-indonesia-desak-remediasi-total-sungai-cisadane-dan-penutupan-permanen-gudang-pestisida-di-tangsel/








PAN Indonesia Pimpin Desakan Remediasi Total Sungai Cisadane dan Penutupan Permanen Gudang Pestisida di Tangsel


admin_exposkotabyadmin_exposkota 13 Februari 2026




PAN Indonesia Pimpin Desakan Remediasi Total Sungai Cisadane dan Penutupan Permanen Gudang Pestisida di Tangsel


exPosKota.com— Pesticide Action Network Indonesia (PAN Indonesia) tampil di garis depan menyuarakan penyelamatan lingkungan menyusul kebakaran gudang penyimpanan pestisida di Tangerang Selatan yang memicu dugaan pencemaran serius di Sungai Cisadane.


Kematian ikan secara massal dalam beberapa hari terakhir menjadi alarm keras bagi masyarakat. PAN Indonesia menilai peristiwa ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan indikasi kuat adanya paparan bahan beracun berbahaya yang mengancam ekosistem dan kesehatan warga.


Koordinator PAN Indonesia, Riza Valentino Tjahyadi, menegaskan pemerintah tidak boleh lamban.


“Langkah cepat, terukur, dan transparan harus segera dilakukan. Sungai Cisadane harus dipulihkan total, dan pihak yang bertanggung jawab wajib ditindak tegas,” tegasnya.


Dugaan Cemaran Berbahaya


PAN Indonesia mengungkap dugaan keterlibatan dua jenis pestisida dalam insiden tersebut, yakni Propofenos dan Cypermethrin. Keduanya masuk kategori Kelas II (berbahaya sedang) menurut klasifikasi WHO.


Cypermethrin dikenal sebagai piretroid sintetis tipe II dengan tingkat toksisitas tinggi (LD50 250 mg/kg). Zat ini bekerja sebagai neurotoksin yang menyerang sistem saraf pusat dan perifer. Dalam lingkungan perairan, cypermethrin sangat beracun bagi ikan, lebah, dan organisme air lainnya, sehingga dikategorikan sebagai polutan serius.


Sementara itu, Propofenos merupakan insektisida organofosfat berspektrum luas. Meski lazim digunakan dalam pertanian dan pengendalian hama, kebocoran atau pengelolaan yang tidak sesuai standar berpotensi merusak ekosistem secara luas.


Hingga kini, belum ada data resmi mengenai konsentrasi racun di sungai maupun durasi residu bertahan di perairan. Ketidakpastian ini, menurut PAN Indonesia, memperbesar risiko bagi warga yang menggantungkan hidupnya pada Sungai Cisadane.


PAN Indonesia Rekomendasikan Bioremediasi


Sebagai solusi konkret, PAN Indonesia mendorong penerapan bioremediasi—metode ramah lingkungan yang memanfaatkan mikroorganisme seperti bakteri Pseudomonas dan Bacillus serta jamur untuk menguraikan senyawa beracun menjadi zat yang lebih aman.






Pendekatan yang direkomendasikan meliputi:


Bioaugmentasi, memasukkan mikroba khusus hasil pengembangan laboratorium untuk mempercepat penguraian polutan.

Biostimulasi, menambahkan nutrisi seperti nitrogen dan fosfor guna meningkatkan aktivitas mikroba alami.

Fitoremediasi, menggunakan tanaman air atau makrofit untuk menyerap kontaminan sekaligus merangsang aktivitas mikroba di sekitar akar.


Pemanfaatan biofilm dan sistem rekayasa seperti lahan basah buatan atau rakit apung tanaman.


Menurut Riza, kombinasi bioaugmentasi untuk percepatan awal dan biostimulasi untuk keberlanjutan jangka panjang dapat memberikan hasil optimal.


“Metode ini lebih ramah lingkungan dan relatif hemat biaya dibanding penanganan kimia konvensional,” ujarnya.


Empat Tuntutan Tegas PAN Indonesia


Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan komitmen terhadap keselamatan publik, PAN Indonesia menyampaikan empat tuntutan utama:


Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH segera mengarahkan perusahaan terkait melakukan remediasi menyeluruh hingga mutu air Sungai Cisadane kembali memenuhi baku standar kualitas lingkungan.


Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Pupuk dan Pestisida, meninjau ulang izin Propofenos dan Cypermethrin. Jika terbukti membahayakan, izin harus dicabut dan distribusi dihentikan.

Pemerintah pusat dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan menutup permanen lokasi gudang penyimpanan pestisida yang terbakar.


Pemerintah pusat dan daerah memastikan seluruh tempat penyimpanan pestisida di Indonesia memenuhi standar keamanan ketat.

Sebagai bagian dari jaringan global Pesticide Action Network bersama PAN Asia Pacific dan PAN Europe, PAN Indonesia menegaskan bahwa perlindungan lingkungan tidak boleh dikompromikan demi kepentingan apa pun.







Sungai Bukan Sekadar Aliran Air

Bagi ribuan warga, Sungai Cisadane adalah sumber kehidupan—untuk kebutuhan sehari-hari, perikanan, hingga pertanian. Jika pencemaran ini tidak ditangani secara serius dan transparan, dampaknya dapat meluas pada kesehatan masyarakat serta keberlanjutan ekosistem.


Kini, sorotan publik tertuju pada langkah nyata pemerintah. Di tengah kekhawatiran yang meluas, PAN Indonesia berdiri sebagai garda terdepan, memastikan tragedi ini tidak menjadi preseden buruk dalam pengawasan dan pengelolaan pestisida di Indonesia.


Remediasi harus total. Penutupan harus permanen. Dan Sungai Cisadane harus kembali bersih—demi generasi hari ini dan yang akan datang. ( august suzana)



https://exposkota.com/pan-indonesia-pimpin-desakan-remediasi-total-sungai-cisadane-dan-penutupan-permanen-gudang-pestisida-di-tangsel/










o0o







Tidak ada komentar:

Arsip Blog