Menengok AOI,
Melacak mimpi besar-tidaknya Gerakan Pertanian Organis
Mendengarkan presentasi Soe Kirman di AOI, Aliansi Organik Indonesia di kota Bogor. Bagiku ini kesempatan baik yaitu kupertanyakan beberapa pokok kepedulianku terhadap gerakan pertanian organis di Nusantara dan jajaki ide terhadap penajaman kerjasama di regional Asia. Itu acara pokokku hari Rabu, sekaligus peringatan Hari Bumi 22 April 2026.
Soe Kirman presentasi tentang uji demplot padi sawah plus asupan POC Benteng Tani, bio-repelent dan refugia terhadap produksi di beberapa oetak sawah di Perbaungan Sumut; ini salah satu tanggungjawabnya sebagai duta tani organis di Indonesia. Ia juga urai ringkas soal kemajuan dalam menggalang kerjasama OMS, organisasi masyarakat sipil dengan pemda (pemkab/ pemkot) dalam aturan dan praktek tani organik.
Oh ya, bagiku, kunjunganku ini adalah pertama kalinya sejak dua puluh enam tahun lalu, tahun 2000 kudorong ide kepada Sabastian Saragih, staf Oxfam GB kantor Indonesia yang ingin menajamkan tani organis sebagai gerakan petani, agar pertanian organis di Indonesia naik kelas, di antaranya dengan mengintroduksi standar, sertifikasi dan akreditasi tani organis di nusantara... Aku dan Soe Kirman berkunjung ke AOI ditemani tokoh/ promotor pertanian alternatif pengendalian hama pada medio 1980an Widjanarko ES dan MG Alif, keduanya adalah bagian Kelompok 10 yaitu para pendiri Walhi di medio tahun 1980an
Oh ya... Catatan: ada beberapa foto ganda ya
@sorotan
Bitra Ind
Elias Tana Moning
Engkan Karsono
Jim Matuli
Laba Lycosa
Maria Loretha
Risma Sitorus Sitorus
Yoga Purwanto Organis
Naskah di atas adalah Salinan dari statusku di Facebook tertanggal 22 April 2026
Tambahan penting
Dalam perjalanan meninggalkan kantor AOI aku menyatakan sedikit kekecewaan lantaran aku tidak mendengar adanya ucapan yang lantang tentang suatu mimpi besar dari para pegiat di kantor AOI. Semuanya terasa mengungkapkan suasana teknis belaka.
Kuingatkan soal keinginanku Ketika itu kepada Sabastian Saragih agar Indonesia memiliki kualitas dan keandalan yang memadai di level Asia. Contohnya kusebutkan, ketika itu, keinginanku agar kelembagaan pertanian organik di Indonesia mampu memindahkan Sekretaroat OFOAM Asia ke Jakarta dari Seoul Korea Selatan; kini malah China yang sudah memindahkan Sekretariat itu ke daratan Cina. Juga kupahami tiadanya adanya Kerjasama regional yang andal dan teratur.
Beberapa contoh pengalamanku mengemukakan mimpi besar
Lihat juga mimpi besar Kementerian Pertanian, bisa anda simak pada analisis saya terhadap program Go Organic 2010
Bacalah jargonnya:
Go Organic 2010
"... mewujudkan Indonesia sebagai salah satu [rpdusen pangan organic Utama di dunia mulai tahun 2010..."
Simak analisisku di blogspot ini tanggal:
Jumat, 01 Oktober 2010
GO Organic 2010 failed, GO Organic 2010 Gagal
Usulan mimpiku ke badan PBB:
Saya melalui surat kepada Indonesian Permanent Mission to the United Nations and International Organizations, Geneva Ambassador tertanggal 7 Februari 2011 saya menghimbau agar pemerintah RI menyampaikan model itu dalam 6th session of the Human Right Council in 8 March 2011 (lihat poster).
Himbauan saya ini adalah sebagai tindak lanjut dari komentar saya terhadap pernyataan Oliver De Schutter pada akhir Januari silam (lihat posting terdahulu di blogspot ini). Lampiran surat saya
Can organic fertiliser subsidy be a model to UN, G20?
Dapatkah Subsidi Pupuk Organik menjadi Model di PBB, G20?
Lihat di blogspot ini tertanggal:
28/02/2011
Can organic fertilisers subsidy be a model to UN, G20?
Baca juga komentar pembaca
comments
A proposal to Indonesian Government As Indonesian citizen I think it is the right time for Indonesian Government to propose proactively “an organic fertilizer subsidy scheme” during this coming forum (Human Rights Council on 8th March) as a model within the United Nations. This initiative should be undertaken as one of the best solution to sustain the food security in Indonesia, but on the other hand we could also save our earth and nature. However, the elimination of fertilizer subsidy for farmers (Indonesian farmers) should be considered as a primary agenda for Indonesian decision makers to allocate sufficient and fair budgeting for overcoming the transition phases until a stable condition comes. As remarks, a continuous campaign on organic fertilizer should be implemented locally, regionally and nationally to reach the final goal. Anyway, the success of Indonesian government to execute campaigns on organic fertilizer, as a proof the seriousness of Indonesian government to create healthier Indonesians, not only physically, psychologically, socially but economically as well. Therefore, a global claim on Indonesia as a major emitter in the world (one of the three largest emitters), is not a barrier for farmers to continue the current organic agriculture, since agriculture activities only contribute very small impacts on the increased emissions.
By yuanita on Can organic fertiliser subsidy be a model to UN, G... on 05/03/11
A proposal to United Nations and G20 I strongly feel global donors shall evaluate and re-consider the possibility to apply 'organic fertilizer subsidy' as model to UN and G20. Most of Asian farmers live in rural areas whose economical condition is still very low on the average. They still lean on external assistance, like requiring good seeds and fertilizers. The elimination of subsidy will break down their main income, especially the farmers who live within vulnerably islands/country such as Indonesia. The double impacts of climate change/global climate/natural disaster has already threatened their livelihoods. Most people in the world still consume rice as their main food, while most rice farmers still live on poverty. How can we get the better quality of food while we ignore the best fertilizer ?.
By yuanita on Can organic fertiliser subsidy be a model to UN, G... on 05/03/11
Penting kutambahkan, bahwa Usulan saya kepada kepala Perwakilan RI di PBB dan lembaga ineternasional lainnya, yang berkantor di Jenewa Swiss, agar usilanku dipromosikan ke dalam 6th session of the Human Right Council in 8 March 2011 dan forum pertemuan inerternasional G20... Beberapa Waktu kemudian saya perkuat argumen dengan hasil pantauan di lapang dengan tajuk: Hasil Pantauan terhadap Bansos pertanian APBN, fokusnya: APPO & Rumah Kompos di 14 Provinsi: 25 Kabupaten/Kota pada periode Maret hingga medio Mei 2012. Biodinamika Peranian Bahari Indonesia. Jakarta 5 Juni 2012
oh, ya... Sekadar rujukan lainnya:
Tjahjadi, R.V. (2003) Organic Agriculture mushrooming, but climate change serious affecting. A skecth of from Indonesia. An article in IFOAM’ magazine. 2003.
Tjahjadi, R.V. (2004) Organic Farming in Indonesia, Retro and Reflection of Current Situations, Report prepared by Riza V. Tjahjadi, BioTani Indonesia Foundation. Report prepared to UN-IFAD, through IFOAM. Jakarta 10 December 2004. Indo-OrganicsFarm-10Dec2004.pdf; expanded version.
Tjahjadi, R.V. (2005) in IFAD (2005) Organic Agriculture and Poverty Reduction in Asia: China and India Focus (2005). The reports on Asian countries other than China and India provided useful further insight into the current situation of organics in the region. These were provided by: Thailand - Gajendra Singh, Dean, Asian Institute of Technology - Extension, Philippines - Magsasaka at Siyentipiko Para sa Pag-unlad Ng Agrikultura consortium, Japan - Kenji Matsumoto, Director, Japan and Organic and Natural Foods Association. Indonesia – Riza V. Tjahjadi, Executive Director, BioTani Indonesia Foundation. The United Nations International Fund for Agriculture Development (IFAD). New York, July 2005; see, also: IndoOrganic-SituationerJan_2005shortVer.Pdf
OK balik lagi ke kunjungan dan diskusi di kantor AOI:
Aku juga melihat adanya kurangnya motivasi dari kalangan peserta diskusi untuk memperjuangkan sesuatu dalam dunia tani organik.
Widjanarka ES pun mengomentari para pelaku di kantor AOI lebih menyerupai orang yang bekerja untuk program, tidak tampak geliat kerja yang berjuang untuk meraih sesuatu yang besar.
Itu saja dulu
salam,
RVT
o0o








