Plastik dan Sampah:
Pantauan bulan Maret 2026
Oleh: Riza V. Tjahjadi
Sepakat bertemu kembali bulan #Mei di Dakar Senegal; itu keputusan dari pertemuan informal di Jepang oleh para juru runding yang menyusun #plastictreaty, Traktat PBB tentang plastik
Para kepala daerah tampak #ambisius mengejar #target untuk menerapkan pembangunan pembangunan fasilitas #PengolahanSampah menjadi Energi Listrik (#PSEL) atau (#WTE) di wilayahnya
#Mikroplastik dapat ditangkap dengan pemakaian #airpurifier pembersih Udara ruangan; ini issue penting tentang plastik mikro pada bulan Maret
Tag: #plastictreaty #Wastetoenergy #mikroplastik
Infografis oleh AntaraNews.com
Hanya bagian
Penutup
1. Sepakat bertemu kembali bulan Mei di Dakar Senegal; itu keputusan dari pertemuan informal di Jepang oleh para juru runding yang menyusun Traktat PBB tentang plastik
The negotiators will meet in Dakar for another meeting in May, the source said. As reported Japan's lead negotiator Satoshi Yoshida also told AFP the negotiators "had good discussions" and more meetings would be held in the coming months.
Pada awal bulan, 7 Februari, anggota UNEP di Jenewa Swis telah memilih ketua baru untuk memperlancar proses negosiasi dalam finalisasi Traktat PBB tentang Plastik pada INC-5.3
2. Sampah sama dengan Bantargebang.. Itu layak diungkap lantaran cukup bamyak berita/ informasi tentang terjadinya tragedi Bantargebang pada wilayah pengelola tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi Jawa Barat. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 8 Maret 2026 yang memakan korban sebanyak 13 orang dengan catatan 7 nyawa melayang dan 6 orang lainnya selamat.
Salah satu pihak yang mengungkap tragedi Bantargebang adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Tempat pembuangan akhir itu sebenarnya karena kondisi darurat saja. Hal itu terjadi karena kita belum mampu mengolah sampah secara mandiri berbasis keluarga dan komunitas,” ujar Ketua LPLH-SDA MUI, Suhardin, seusai Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Aksi Iklim Berbasis Iman, Budaya, dan Komunitas yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia melalui Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam MUI di Aula Buya Hamka, Gedung MUI, Menteng, Jakarta, Senin (16/3/2026) malam.
Dia menilai, pengelolaan sampah seharusnya dilakukan dari hulu atau sumbernya, yaitu rumah tangga. Dengan pengolahan sampah sejak awal, volume sampah yang dibuang ke TPA dapat berkurang secara signifikan
3. Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. sebagai mitra pengelola lokasi pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WTE) di Bogor Raya
“Mitra yang terpilih diharapkan dapat menjaga kinerja operasional yang konsisten, memastikan kepatuhan terhadap semua peraturan yang berlaku, dan mendukung keterlibatan komunitas sekitar,” ujarChief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir dalam keterangan resmi di Jakarta medio Maret 2026.
Selaras dengan Peraturan Presiden No. 109/2025, penetapan mitra pengelola untuk fasilitas Bogor Raya merupakan tonggak penting dalam program WtE (Waste-to-Energy) Danantara.
Dalam skala nasional para kepala daerah tampak ambisius mengejar target untuk menerapkan PSEL di wilayahnya. Sebut saja gubernur Jawa Timur dan gubernur Banten. Adapun lokasinya ialah: Provinsi Banten, Provinsi Jawa Tengah untuk kawasan Semarang Raya, dan Provinsi Jawa Timur untuk wilayah Surabaya Raya dan Malang Raya. Rinciannya: dua fasilitas PSEL di Banten akan dibangun di Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, dan Cilowong, Kota Serang, Jawa Tengah untuk kawasan Semarang Raya, dan Provinsi Jawa Timur untuk wilayah Surabaya Raya dan Malang Raya.
Pengembangan PSEL ialah dengan menggunakan pendekatan aglomerasi turut diterapkan di Surabaya Raya dan Malang Raya, Jawa Timur.
Dengan pendekatan hilirisasi yang terintegrasi, program Waste to Energy diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong kota-kota di Indonesia menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan
4. Sampah plastik saset kemasan menghantui Indonesia sebab jumlahnya paling banyak, demikian pernyataan Ketua Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Rahmawati Husein.
Latar belakang banyaknya sampah plastik saset menurutnya, disebabkan promosi besar-besaran oleh produsen tentang kemudahan dan harga murah yang mereka tawarkan untuk produk-produk yang dikemas dalam bentuk saset.
“Belum ada kesadaran beli curahan. Dengan alasan murah cuma deterjen 2.000 an sudah jadi. Iklannya di TV kan gencar semua saset 2.000,” kata Rahmawati Husein pada (12/3) dalam Kajian Itikaf yang diadakan AMM Piyungan, Bantul.
Di sisi lain, fakta itu menunjukkan perilaku boros yang dijalani oleh masyarakat di Indonesia. Perilaku boros ini padahal menjadi perbuatan yang paling dikecam oleh Allah Swt seperti dalam Surat Isra ayat 27.
Perilaku boros masyarakat Indonesia juga tercermin dari jumlah angka sampah makanan (food loss and food waste). Tercatat setidaknya ada sampah makanan 60.000 sampai 130.000 ton per hari di Indonesia.
“Kebanyakan itu nanti dari rumah tangga 47 persen itu sampah rumah tangga paling tinggi. Jadi kita berharap ini kepada ibu-ibu, bapak-bapak itu saling mengingatkan di keluarga,” katanya.
Perempuan yang akrab disapa Bu Ammah ini berharap, jumlah produksi sampah plastik saset dan sampah makanan, termasuk sampah-sampah lain di Indonesia terus berkurang sehingga lingkungan menjadi aman dan nyaman.
Selain itu, peran rumah tangga terhadap pengurangan sampah plastik juga dapat dilakukan dengan cara belanja menggunakan kantong sendiri yang bisa dipakai berulang-ulang. Sebab sampah kantong plastik belanjaan di Indonesia juga paling banyak kedua setelah sampah plastik saset.
5. Plastik mikro dapat dikendalikan dengan pemakaian pembersih Udara ruangan; ini issue penting tentang plastik mikro pada beluan Maret.
Air purifier, atau pembersih udara, yang dilengkapi High-Efficiency Particulate Air (HEPA atau HyperHEPA) disebut bisa menangkap mikroplastik di dalam ruangan. Mikroplastik adalah potongan-potongan kecil plastik yang biasanya berukuran kurang dari lima milimeter.
Air purifier bisa menangkap mikroplastik dalam ruangan Penyaringan bisa lebih baik ketika dioperasikan konsisten
Filter HEPA atau HyperHEPA dirancang menangkap partikel halus. Maka dari itu, mikroplastik di udara yang sering kali berupa serat dan fragmen dapat ditangkap oleh filter dengan efisiensi tinggi.
IQAir menyebut, mikroplastik dapat terus terlepas di dalam ruangan sehingga penyaringan bekerja paling baik ketika pembersih beroperasi secara konsisten, terutama di kamar tidur dan ruang keluarga.
"Penyaringan udara dapat mengurangi apa yang mengambang di udara, tapi mikroplastik juga dapat mengendap di permukaan atau masuk ke dalam tubuh melalui jalur paparan lain seperti makanan dan air," ucap IQAir.
Pada sisi lain plastik mikro dan plastik nano ditemukan di wilayah hutan.
Untuk lebih memahami bagaimana mikroplastik terakumulasi, tim peneliti mengumpulkan sampel dari empat lokasi hutan di sebelah timur Darmstadt di Jerman.
Para peneliti kemudian meneliti tanah, dedaunan yang gugur, dan endapan atmosfer menggunakan metode baru yang dikombinasikan dengan teknik pemindaian cahaya (spektroskopi).
Selain itu, mereka membuat sebuah model untuk memperkirakan seberapa banyak mikroplastik yang masuk ke hutan dari udara sejak tahun 1950-an. Hal ini membantu mereka menilai seberapa besar total polusi di dalam tanah hutan yang sebenarnya berasal dari sumber-sumber di atmosfer.
Polusi plastik bisa menumpuk di hutan Plastik bisa ditemukan di tumpukan daun dan dalam tanah.
Sebagian besar mikroplastik datang melalui udara dan secara bertahap menumpuk di tanah di hutan. Menurut para peneliti, partikel plastik kecil ini pertama-tama hinggap di dedaunan di tajuk pohon bagian atas.
Ketika partikel mikroplastik dan nanoplastik sampai di dasar hutan, proses alami pun dimulai. Pembusukan daun-daun yang gugur berperan penting dalam menjebak dan menyimpan mikroplastik di dalam tanah. Para peneliti menemukan penumpukan plastik tertinggi ada di lapisan atas serasah atau tumpukan daun, tempat proses pembusukan baru saja dimulai.
Namun, plastik dalam jumlah banyak juga ditemukan jauh di dalam tanah. Pergerakan plastik ke lapisan tanah yang lebih dalam ini tidak hanya disebabkan oleh pembusukan daun, tapi juga oleh aktivitas makhluk hidup, seperti organisme tanah yang membantu mengurai daun dan memindahkan partikel-partikel tersebut.
Tangerang 5 April 2026
Selengkapnya ada di:
o0o



Tidak ada komentar:
Posting Komentar