Jumat, 24 April 2026

 



Menengok AOI, 


melacak mimpi besarnya Gerakan Pertanian Organis













Mendengarkan presentasi Soe Kirman di AOI, Aliansi Organik Indonesia di kota Bogor. Bagiku ini lesempatan baik yaitu kupertanyakan beberapa pokok kepedulianku terhadap gerakan pertanian organis di Nusantara dan jajaki ide terhadap penajaman kerjasama di regional Asia. Itu acara pokokku hari Rabu, sekaligus peringatan Hari Bumi 22 April 2026. 

Soe Kirman presentasi tentang  uji demplot padi sawah plus asupan POC Benteng Tani, bio-repelent dan refugia terhadap produksi di beberapa oetak sawah di Perbaungan Sumut; ini salah satu tanggungjawabnya sebagai duta tani organis di Indonesia. Ia juga urai ringkas soal kemajuan dalam menggalang kerjasama OMS, organisasi masyarakat sipil dengan pemda (pemkab/ pemkot) dalam aturan dan praktek tani organik. 

Oh  ya, b6agiku, kunjunganku ini adalah pertama kalinya sejak dua puluh enam tahun lalu, tahun 2000 kudorong ide kepada Sabastian Saragih, staf Oxfam GB kantor Indonesia yang ingin menajamkan tani organis sebagai gerakan petani, agar pertanian organis di Indonesia naik kelas, di antaranya dengan mengintroduksi standar,  sertifikasi dan akreditasi tani organis di nusantara... Aku dan Soe Kirman berkunjung ke AOI ditemani tokoh/ promotor pertanian alternatif pengendalian hama pada medio 1980an Widjanarko ES dan MG Alif, keduanya adalah bagian Kelompok 10 yaitu para pendiri Walhi di medio tahun 1980an


Oh ya... Catatan: ada beberapa foto ganda ya


@sorotan 

Bitra Ind 

Elias Tana Moning 

Engkan Karsono

Jim Matuli 

Laba Lycosa 

Maria Loretha 

Risma Sitorus Sitorus 

Yoga Purwanto Organis


Naskah di atas adalah Salinan dari statusku di Facebook tertanggal 22 April 2026



Tambahan penting

Dalam perjalanan meninggalkan kantor AOI aku menyatakan sedikit kekecewaan lantaran aku tidak mendengar adanya ucapan yang lantang tentang suatu mimpi besar dari para pegiat di kantor AOI. Semuanya terasa mengungkapkan suasana teknis belaka.

Kuingatkan soal keinginanku Ketika itu kepada Sabastian Saragih agar Indonesia memiliki kualitas dan keandalan yang memadai di level Asia. Contohnya kusebutkan, ketika itu, keinginanku agar kelembagaan pertanian organik di Indonesia mampu memindahkan Sekretaroat OFOAM Asia ke Jakarta dari Seoul Korea Selatan; kini malah China yang sudah memindahkan Sekretariat itu ke daratan Cina. Juga kupahami tiadanya adanya Kerjasama regional yang andal dan teratur.

Aku juga melihat adanya keletihan kurangnya motivasi dari kalangan peserta diskusi untuk memperjuangkan sesuatu dalam dunia tani organik.

Widjanarka ES pun mengomentari para pelaku di kantor AOI lebih menyerupai orang yang bekerja untuk program, tidak tampak geliat kerja yang berjuang untuk meraih sesuatu yang besar.


Itu saja dulu


salam,

RVT






o0o



Tidak ada komentar:

Arsip Blog