Minggu, 13 April 2008

Victim of hybrid rice voiced by Kompas today



Victim of hybrid rice voiced by Kompas today



Resist..! against hybrid rice

Fatalist farmers or “que sierra-sierra” farmers’ shown their fate by experiencing similar result when they for second time growing hybrid rice seeds of Bernas Super variety in a hamlet namely Dusun Karang Duwet of a village, Desa Kebon Agung in the sub-regency Imogiri, south part of Yogyakarta. Bernas Super and Bernas varieties are – fast track - imported hybrid rice seeds from China: Sichuan Guohao Seed Company by Tommy Winata or TW, a business-tycoon back by the Vice President Mohammad Jusuf Kalla (JK)

As monitored by BioTani accompanied by journalists of Kompas daily newspaper week ago hybrid rice plant attacks by similar pest and not well growing. Supposed they will not reach good harvesting, if not fail completely, in coming weeks.

Kamadi with 40 members of his farmers’ group have asked advice to district agricultural office who distributed hybrid rice seeds free in charge, not able to indicate solution at all. Kamadi said hybrid rice attacked by sundep a pest like worm as reported in Kompas today (11 April 2008) as part of special section: Fokus.

That pest should be carefully identify, meanwhile Sundep or stemborer usually attack rice plant at vegetative stage.

October last year BioTani Indonesia identified similar hybrid rice variety grown in the same rice fields attacked by pests. Name of pest is Kepinding tanah, or kepinding batu, or lembing tanah or blackbug. The other one is hama putih palsu or leaffolder or leafroller. Leafroller attacked rice because the field always watering down by farmer. This condition suitable for leafroller.

As being known Desa Sumber Agung or Kebon Agung (according Kompas 11 April 2008) in the sub-regency Imogiri located relatively near cemetery of monarchy of Sultanate of Yogyakarta, it’s around 25 Kms south of city of Yogyakarta. Total area of rice field amounted 700 hectares cultivated with rice, corn, soybeans etc. There are five farmer groups but only one group received hybrid rice seeds with credit scheme; that was Ngupoyo Bogo which located in a hamlet, namely Dusun Karang Dhuwet with 44 persons was members, while average of cultivated rice field between 2,000 m2 and 3,000 m2. This group was chosen since they popularly known with good performance and once has had awarded a hand-tractor by the district-level agriculture office
(see: Hybrid Rice in Indonesia, Too ambitious..! WRONG TRANSPLANTING METHOD/BioTaniInd/23Oct.2007; www.biotani.org).

Tony Septiawan, a coordinator of BioTani Foundation for Central Jawa and Yogyakarta region said these farmers is a portrait of farmers in general who easily dictated by irresponsible policies of the government; while promoting new projects overtime (Kompas, 11 April 2008).

Ono dino bedo, ono sasi lan tahun bedo (every day is different as well every month and every year),” said Tony in his report to BioTani Indonesia last week, quoting the farmer saying as to reveal driven motives of Kamadi or popularly named Hardo and his group to grow again Bernas Super variety.

However Kompas dailynewspaper also reported a movement against propaganda on hybrid rice seeds by a rice farmer group, also, in Yogyakarta region. Panut, a leader Ngudi Rukun group of Ngestiharjo of Bantul administration told he and his group rejected Bernas variety when invited by sub-district level administration officers to a meeting, with tricky tactic. entitled Pembentukan Gapoktan, gabungan kelompok tani or forming association of groups of farmers, which at the end farmers persuaded to bring back hybrid rice seeds. It was last February. In contrast, he and his group growings a fragrant rice of local variety, namely Rojolele days afterwards that meeting (Kompas, 11 April 2009).



`•...¸><((((º>¸.
><((((º>`•.¸¸•´´¯`¸><((((º>¸.
•´¯`•.¸. , ..><((((º>
.•´¯`•..
><((((º>`•.¸¸•´¯`•¸><((((º>
`•...¸><((((º>¸.

Riza V. Tjahjadi
BioTani & Bahari Indonesia Foundation
Jl. Persada Raya No. 1 Menteng Dalam
Jakarta 12870 Indonesia
Telp. +62-21-8296545
email: biotani@rad.net.id, biotani2004a@yahoo.com
http://www.biotani.org
http://biotaniindonesia.blogspot.com/

reply to: biotani@gmail.com, biotani2004a@yahoo.com

11 April 2008

«»«»«»«»«»«»«»«»«»




Mereka yang Dibodohi dan yang Melawan

Jumat, 11 April 2008 00:44 WIB
Kamadi (64), petani tua dari Dusun Karang Duwet, Desa Kebon Agung, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini ditipu. Namun, setelah gagal panen karena menanam padi hibrida dengan benih impor dari China, dia tetap menurut ketika untuk kedua kalinya dibujuk dinas pertanian setempat dan agen pengusaha untuk menanam benih yang sama. Kamadi pun terjerembap dalam lubang yang sama dua kali.

Sore itu kami dibawa Kamadi ke sawahnya. Padinya sudah berumur dua bulan. Mestinya tinggal satu bulan lagi panen. Namun, tanda-tanda gagal panen membayang. Tanaman padi Kamadi sebagian kerdil, sebagian kering kecoklatan. ”Sama dengan yang pertama, sepertinya akan gagal lagi,” keluh Kamadi, yang juga korban bencana gempa yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dua tahun lalu.

Rumah Kamadi hancur akibat gempa. Seorang kerabatnya meninggal. Hidup keluarga Kamadi dimulai dari titik nol. Saat itulah, sekitar Oktober 2007, staf dinas pertanian setempat yang bekerja sama dengan perusahaan pengimpor benih menawarkan benih padi hibrida kepada Kamadi, yang juga sesepuh Kelompok Tani Nyupoyo Buko.

Kamadi dan 40 anggota kelompok taninya—yang semuanya juga korban gempa—menanam benih bantuan itu di lahan seluas 6 hektar. Kamadi sendiri menanam benih itu di lahannya yang seluas 2.000 meter persegi. Untuk biaya membajak, menanam, memupuk, dan obat-obatan, Kamadi mengeluarkan uang lebih dari Rp 1 juta. Itu belum termasuk tenaganya sendiri yang tak dihitung.

”Uang itu hasil menjual sisa tabungan yang ada,” kata dia. Namun, jangankan menangguk untung. Kamadi yang terpuruk akibat bencana gempa makin terpuruk karena padinya gagal panen.

Semua padi yang ditanam kelompoknya juga hancur. Ada hama baru, seperti sundep, tetapi lebih ganas, yang menyerang padinya. ”Kalau dicabut, akar padi yang terserang penyakit itu seperti ada cacingnya. Kami sudah lapor ke dinas. Mereka hanya bisa ngurut dada, tapi ya tidak bisa berbuat banyak,” keluh Kamadi.

Kamadi, yang merasa ikut bertanggung jawab memperkenalkan bibit itu kepada kelompoknya, pusing tujuh keliling. Namun, dia terikat untuk kembali mencoba menanam benih hibrida sekali lagi. ”Saya takut kalau tidak nurut, kami hanya orang kecil,” kata dia.

Tony Septiawan, Koordinator Yayasan Bio Tani Wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, menceritakan, ”Saat bertemu dengan Kamadi setelah gagal panen bulan Desember lalu, dia stres berat. Bahkan, sempat mau bunuh diri. Herannya, dia tidak kapok, malah sekarang mencoba lagi benih hibrida lagi,” kata Tony

Menurut Tony, Kamadi adalah potret mayoritas petani Indonesia yang mudah dibodohi, sementara pemerintah tidak bertanggung jawab dan sering kali menjerumuskan petani dengan proyek-proyek baru.

Tak jarang, staf birokrasi pemerintahan justru bertindak sebagai semacam sales (tenaga pemasar) bagi produsen atau pedagang benih. Itu yang membuat para produsen atau pedagang benih hibrida tetap merajalela meski sudah membuat banyak petani merugi.


Yang melawan
Lain halnya dengan Panut (56). Ketua Kelompok Tani Ngudi Rukun di Kelurahan Ngesti Harjo, Kecamatan Kasian, Bantul, ini menolak tegas benih padi hibrida impor yang ditawarkan oleh pengusaha yang bersekutu dengan dinas pertanian setempat.

Pada Februari 2008 Panut diundang datang dalam acara pembentukan gabungan kelompok tani (gapoktan) di kantor kecamatan bersama sejumlah ketua kelompok tani lain. Namun, di sana kelompok tani itu justru diceramahi untuk menanam padi hibrida dengan benih impor dari China. ”Kami merasa ditipu. Undangan tidak sesuai dengan kenyataannya,” kata dia.

Bagi Panut, bibit padi hibrida yang ditawarkan tidak bisa diterima karena dia tak ingin menjadi kelinci percobaan. Harga bibit terlalu mahal, yaitu Rp 45.000 per kilogram. Rasa dan umur padi juga belum teruji. ”Kami juga takut adanya hama baru yang muncul dari benih impor ini,” kata Panut, yang lulusan sekolah teknik menengah ini.

Dan yang paling meresahkannya, bibit padi hibrida itu, menurut Panut, akan menyebabkan petani bergantung pada pihak luar. Panut memilih mengembangkan padi varietas lokal, seperti rojolele, yang bibitnya bisa dimuliakan sendiri.

Panut kini juga mengembangkan obat-obatan dengan bahan alami dan menggunakan pupuk kandang dan kompos untuk menggantikan pupuk urea. Pekarangan rumahnya dipenuhi tumbuhan yang bisa digunakan untuk mengusir hama padi, misalnya tanaman mindi untuk mengusir burung dan belalang.

Andai petani-petani Indonesia bisa meniru jejak Panut, berani melawan dan bersikap. Siapa mau memberdayakan petani dan bukannya membodohi mereka? (AIK/TAT)

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.11.00444415&channel=2&mn=173&idx=173

Tidak ada komentar: