Senin, 11 Februari 2013

Empat Varietas Kedelai, Jagung, Tebu transgenik (Segera) Dilepas Di Pasar?











Empat Varietas Kedelai, Jagung, Tebu transgenik (Segera) Dilepas Di Pasar?
 

Corporate take over the seeds..!


Komisi Keamanan Hayati merekomendasikan jagung transgenik untuk disetujui oleh pemerintah dapat beredar di pasar benih... Wartawan Kompas menulis dengan keluhan, mengapa sepi reaksi? (Rabu, 19 September 2012 | 01:49 WIB).

Naaah, sekarang: "Hayo, bikin hingar-bingar....

Apa begitu? Masih banyakkah yang siap dan mau bermanuver dengan hingar-bingar?

Eeeehheeem... (where ever the flowers gone? Long time ago)

Bagi petani?

Biarkan petani memilih benih yang mereka sukai. Itu kalimat cerdas dan respek terhadap petani. Lanjutan kalimatnya: Jika tidak disukai, maka jagung transgenik tidak akan ke mana-mana... Boleh jadi, begitu, Tetapi pada sisi lain, akan melambat publik akan memperoleh gambaran bagaimana dampak negatif benih transgenik itu teramati oleh para peneliti.

Petani cerdas dan bebas akan klop dan harmonis dengan pasar benih? Benar begitu?

Tidak benar... Karena pasar benih tanaman sangat manipulatif terhadap preferensi para petani. Karenanya ketersediaan benih akan berujung pada satu atau beberapa jenis atau merek saja. Ini, jelas jangan dilupakan, apalagi diabaikan. Pasar benih jagung dikuasai oleh tiga-empat merek perusahaan saja. Perusahaan raksasa...  Apa susahnya mereka menggusur benih yang bukan merek milik mereka. Lalu.apa artinya,. petani yang mendapat kebebasan memilih, dan petani sudah cerdas, tetapi mereka berhadapan dengan realitas, bahwa benih yang diinginkannya tidak ada di pasar?

Benih subsidi? Sami mawon... itu adalah benih dari hasil dari perusahaan negara, dan perusahaan swasta.

Apa maknanya semua itu, pasar dan subsidi?

Mudah.... petani (yang dianggap bebas dan cerdas) berada dalam perangkap ketergantungan. Ketergantungan terhadap pasar benih, dan juga ketergantungan terhadap (jika masih ada) subsidi benih...

Lalu?

Aaaah, cari saja benih dari kalangan petani itu sendiri?

Mudah-mudahan ada, dan masih berlangsung tradisi tukar-menukar benih antar petani. Lebih-lebih, jika tukar-menukar benih itu adalah benih lokal (farmers' varieties). Tentu akan menghadirkan rasa puas petani, manakala tradisi tukar-menukar itu tidak berembel-embel jual-beli... Amit-amit..! Berbagi, melestarikan rasa solidaritas di kalangan petani, jangan pula dikotori dengan transaksi jual-beli...


Riza V. Tjahjadi: biotani@gmail.com






NB: lihat juga target kementeria pertanian tentang produk transgenik BB Bioteh Bogor pada posting saya terdahulu.






Jumat, 25 Juni 2010








I
t’s common, when you buy a durian fruit (Durio zibethinus Murr.) on the roadside fruit sellers, then the available varieties with diverse tastes. Popularity, purchasing five then you will find five different flavors, except if you cultivate a “dodol durian” or sweet cake (pulp of durian mixed with sticky rice and coconut milk) or cooked with coconut milk and pieces of banana into durian
compote; the so-called “kolak durian”. But the durian is the king of fruit ... even though non-Asian people do not like the smell that stung. Therefore, for consumers in Japan by Thai entrepreneurs of durian fruit is processed into dry snacks and odorless. In addition to coated seeds eaten, durian trees are used for environmental conservation by reducing soil erosion; skin of the fruit is used as charcoal or mixtures as media for growing crops; the roots, leaves and fruit skin can be used also as a medicine (Tjitrosoepomo, 1952; Heyne, 1987; Rismunandar, 1986; Suhardi, 2002). Durian main stem used as wood for building materials - are among the Dayak communities in East Kalimantan are classified as second-class quality of timber.



Buy five and … your will get five different tastes..!

Will be replaced by mono-taste in 2015… Durian and mangosteen.. transgenic


Riza V. Tjahjad
i



and so on
  






Senin, 06 Desember 2010
http://4.bp.blogspot.com/_gPgHrUOONII/TPzL6WWE6KI/AAAAAAAAAPo/JMKrJHQtFUU/s400/Transgenic-Vs-Organic%2B2011.jpg
Transgenic crops Development and (possibility transforming) Organic Product?

Versi Indonesia (bawah)


At least, five GM crops expected released by the minister of agriculture in 2011-2013.
1. Two GM sugarcane being developing: a drought tolerant variety by one of state plantation enterprise, namely PTPN XI & PT Ajinomoto, and a high sugar content variety by PTPN & Biology Molecular of the University of Jember East Jawa.
2. GM Cassava.
3. Golden rice of BB Padi Sukamandi West Jawa.
4. GM rice with N efficient (CsNit1-L of a Japanese cucumber insert into Oryza Sativa L. japonica cv Nipponbare + Ciherang variety resulted strong character of Ciherang with N efficient application.
Incoming these transgenic crops, especially rice will add the existing type of rice: inbred and hybrid rice varieties in the farmers’ fields.





Kamis, 08 Desember 2011
http://1.bp.blogspot.com/-fULq9-4FoAc/TuC-qGviCrI/AAAAAAAAAYI/_tb8lTxe5Rk/s400/Right-to-Food%2Bis%2BNOT%2BRght%2Bto%2Bbe%2BFed--blogspot.jpg
RUU Pangan
(versi 2 Desember 2011)

Trangenic foods should be labeled


 

a bird's eye view of a bill on Food


Kedaulatan Pangan, tanpa Pertanian Organik?
Ah. aaah, aaaah... (where r U organic proponents?)



Pangan Transgenik TANPA LABEL?
profiteering corporates?
Food? Health? Hope?
Monopolies From Seed to Supermarket..!
Ntar dulu....

ZERO HUNGER?
 







Naaah, Ayo lawan... bikin hingar-bingar (maunya wartawan)
simak poster di bawah ini:
 






Guntingan berita:

Rekayasa Genetika: 4 Varietas Kedelai, Jagung, Tebu Segera Dilepas Di Pasar
Dipublish tanggal 19-11-2012

Bisnis Indonesia, 17/11/2012. JAKARTA. Pemerintah sedang mengevaluasi empat varietas benih hasil rekayasa genetika (bioteknologi), yaitu kedelai,dua varietas jagung, dan tebu tahan kekeringan untuk segera dikomersialisasikan ke pasar.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian Haryono mengatakan upaya percepatan adopsi teknologi termasuk produk rekayasa genetika diatur dengan PP No. 21/2005 tentang Keamananan Hayati Produk Rekayasa Genetika, dilengkapi Permentan No. 61/OT.140/XI/2011 tentang Pengujian, Penilaian, Pelepasan Varietas Tanaman, maka sudah ada beberapa usulan uji tanaman GMO.

Uji keamanan pangan produk GMO dilakukan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan, keamanan pangan oleh Balitbang Kementan, dan keamanan lingkungan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Dia menjelaskan untuk komoditas kedelai terdapat satu varietas GT4032 yang sudah ada sertifikat aman lingkungan dan aman pangan, tetapi belum aman pakan.

Untuk dapat dikomersialkan benih GMO itu harus memenuhi persyaratan keamanan pangan, pakan, dan lingkungan.

"Untuk jagung yaitu NK603 sudah aman pangan dan segera terbit rekomendasi aman pakan, tetapi belum aman lingkungan," ujarnya kepada Bisnis, Senin (17/9/2012).

Haryono menambahkan untuk jagung varietas PRG MON 89034 dalam waktu dekat akan mendapatkan rekomendasi aman pakan.

Selain kedelai dan jagung, ungkapnya, untuk tebu tahan kekeringan sudah ada sertifikat aman lingkungan dan aman pangan, tetapi belum diajukan kajian aman pakan. (bas)


Source: http://www.bisnis.com/articles/rekayasa-genetika-4-varietas-kedelai-jagung-tebu-segera-dilepas-ke-pasar

Lihat juga:

http://indonesiabch.org/beritadetail.php?id=21
Balai Kliring Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik
Asisten Deputi Keanekaragaman Hayati dan Pengendalian Kerusakan Lahan
Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim
Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia

---







ini dia keluhan wartawan (kawan lama), kok, sepi reaksi.... Eeeehhheeeeemmmm (ornop, 'dah, ke....., mosok anda tak tau?)





LAPORAN IPTEK
Konsekuensi Jagung Transgenik

AGNES ARISTIARINI
Rabu, 19 September 2012 | 01:49 WIB

Di tengah ingar-bingar politik dalam negeri, berita tentang rekomendasi Komisi Keamanan Hayati untuk keamanan pakan jagung transgenik bak daun jatuh ditelan arus. Tak banyak tanggapan berarti meski konsekuensinya beragam, dari dampak lingkungan, ketergantungan petani, hingga kedaulatan pangan.

Jagung yang direkomendasikan itu adalah RR NK603 dan Bt Mon89034. Varietas RR NK603 adalah jagung yang mendapat introduksi gen bakteri tanah Agrobacterium sp. Dengan rekayasa genetik ini, RR NK603 menjadi tahan terhadap glyphosate, bahan aktif dalam herbisida Roundup.

Cara kerja glyphosate adalah menghambat enzim yang berfungsi dalam biosintesis asam amino tertentu dalam tanaman dan mikroorganisme yang berperan dalam pertumbuhan. Maka, idenya adalah mengembangkan suatu areal pertanaman jagung transgenik yang gulmanya bisa dibasmi dengan herbisida khusus tanpa khawatir tanaman utamanya ikut mati. Disingkat RR dari Roundup Ready, RR NK603 dan Roundup adalah produk perusahaan multinasional Monsanto.

Varietas Bt Mon89034 juga dihasilkan oleh Monsanto. Kode Bt merupakan singkatan dari bakteri Bacillus thuringiensis, yang gennya disisipkan ke jagung melalui rekayasa genetika. Gen yang diambil dari bakteri Bt tersebut adalah gen penyandi protein Cry1A.105 dan Cry2Ab2, keduanya dapat mematikan larva hama penggerek batang jagung lepidoptera. Hama ini menurunkan hasil panen jagung hingga 30 persen.


Kontribusi jagung

Jagung adalah tanaman pangan penting kedua setelah padi, baik dari sisi produksi maupun nilainya. Sebagian besar areal pertanaman jagung terdapat di lahan kering, baru sisanya di lahan irigasi dan tadah hujan. Daerah penghasil utama jagung di Indonesia adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Kebutuhan jagung untuk bahan baku industri makanan, minuman, dan pakan terus meningkat 10-15 persen setiap tahun. Namun, berbagai upaya untuk meningkatkan produksi jagung nasional belum juga mampu menutup kebutuhan. Data dari Balai Penelitian Tanaman Serealia menunjukkan, impor jagung segar meningkat 4,5 kali lipat dari 338.798 ton tahun 2009 menjadi 1.527.516 ton tahun 2010. Demikian pula halnya dengan impor jagung olahan yang meningkat tiga kali lipat dari 82.433 ton tahun 2009 menjadi 259.295 ton tahun 2010.

Persoalan utama pengembangan jagung di Indonesia adalah belum meratanya penggunaan benih jagung yang berkualitas, belum intensifnya pengelolaan budidaya dan penanganan pascapanennya. Tidaklah mengherankan bila upaya peningkatan produksi jagung juga lebih ditekankan pada produktivitas, bukan perluasan lahan.


Varietas baru

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, misalnya, sampai tahun 2011 telah merilis berbagai varietas unggul baru, termasuk di antaranya 16 hibrida baru. Dalam hal ini, varietas unggul baru tanaman pangan biasanya memiliki ketahanan terhadap hama penyakit dan tahan terhadap lingkungan spesifik wilayah, seperti tingkat kesuburan tanah yang rendah dan ancaman kekeringan.

Dalam hal ini, kehadiran varietas jagung transgenik memang masuk dalam kriteria. Permasalahannya kemudian, siapkah kita menghadapi berbagai risiko kehadiran jagung transgenik di Indonesia?

Potensi risiko ini dapat dikaji dari pengaruh komponen sisipan ini terhadap makhluk hidup lain—mikroorganisme, herbivora, dan omnivora—bukan target, yang memakan tanaman transgenik, baik langsung maupun tidak langsung. Potensi lain adalah pengaruhnya terhadap lingkungan yang lebih menyeluruh dari areal pertanaman transgenik.

Seperti diuraikan sebelumnya, tanaman transgenik adalah tanaman yang disisipi gen makhluk hidup lain melalui suatu rekayasa genetika. Sebagai hasil rekayasa yang tidak alami: karena menggabungkan gen tanaman dengan gen bakteri atau gen lain yang bukan kerabatnya, dampak terhadap habitatnya bisa tidak terduga.

Menurut Dwi Andreas Santosa dalam ”Analisis Risiko Lingkungan Tanaman Transgenik” yang dipublikasikan dalam jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Oktober 2000, perubahan ini ternyata memengaruhi predator alami hama target, mulai dari ketidakmampuan mengenali mangsanya sampai turut mati sebagai korban.

Tumbuhan milkweed yang tumbuh di sekitar ladang jagung Bt ternyata juga tercemar serbuk sari jagung meski dalam jumlah yang lebih rendah dari ambang batas toksisitas terhadap larva kupu-kupu monarch. Dengan demikian, perlu dianalisis lebih lanjut dampak buruk penyebaran gen tanaman transgenik ke tanaman budi daya lain yang mampu kawin silang dengan kerabat liarnya.

Penyebaran gen dari tanaman transgenik juga sering dianggap sebagai ancaman terhadap keanekaan hayati, terutama pada tanaman liar yang sudah terancam punah, meski menurut beberapa ilmuwan pendapat ini sulit diterima.


Dampak sosial

Menurut Dwi Andreas Santosa, Ketua Program S-2 Bioteknologi Tanah dan Lingkungan IPB dan menjadi salah satu penggagas Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia, yang lebih penting lagi untuk dipertimbangkan adalah dampak ekonomi dan sosial.

Bila tanaman transgenik ditanam secara besar-besaran, akan terjadi pergeseran penguasaan benih dari mula-mula common property—di mana petani menjadi pemilik benih yang bisa disimpan dan ditanam berulang kali—menjadi milik hanya beberapa perusahaan multinasional.

Kedua benih yang sudah dianggap sebagai pakan yang aman pada tingkat berikutnya bisa direkomendasikan untuk ditanam. Ini yang berkonsekuensi pada ketergantungan petani. Pada jagung RR NK603, petani bahkan hanya bisa menggunakan produk pestisida tertentu. Inikah yang kita inginkan?

Kompas online











---o0o---



Tidak ada komentar: