Rabu, 26 November 2014

Pertanian Biodinamika Menggeliat lagi





Pertanian Biodinamika Menggeliat lagi



Riza V. Tjahjadi 
biotani@gmail.com

 

Buku yang saya tulis dua puluh satu tahun lalu masih diminati... Ini indikator bahwa pertanian biodinamika kembali menggeliat ke permukaan sebagai sistem pertanian yang (tetap) digeluti pelaku usaha tani/ budidaya tanaman di Indonesia. Kali ini seorang generasi muda mengontakku. Dia: Afi Soedarsono penanam yang belajar-terapkan biodinamika berdasarkan ajaran Rudolf Steiner - yang sudah merajalela dalam khazanah sistem pertanian organik global sejak tiga dekade silam. Ia, Afi Soedarsono tertarik untuk membaca mengenai pertanian biodinamika ala Nusantara. Ia menemukan judul bukuku, dan mengontakku melalui ef-be... dst kami bertemu di Cafe Dill lantai bawah Plaza Indonesia Rabu siang 22 Oktober 2014. Salah satu sistem pertanian biodinamika di Jawa adalah Pranata Mongso





Nah, ini salah satu isi bukuku, yaitu hitungan yang tersedia untuk tanam-menanam menurut gabungan hari pasaran Jawa dan hari internasional: Kliwon = 8, Legi = 5, Pahing = 9, Pon = 7, Wage = 4. Senin = 5, Selasa = 4, Rabu = 3, Kamis = 7, Jumat = 8, Sabtu = 6, Minggu = 9. 










Tanam yang hasilnya tipe oyot (akar) adalah yang jumlahnya adalah 1, 6, 11, 16. Tanaman tipe batang adalah 2, 7, 12, 17. Tanaman tipe daun adalah 3, 8, 13, 18. Tanaman tipe buah adalah 4, 9, 14, 19, dan tipe kembang/ bunga adalah 5, 10, 15, 20.





lagi, asyiknya Afi Soedarsono, yang tampaknya kuat minatnya berbiodinamika dalam tanam-menanam sayuran di wilayah Jogjakarta





Hari baik menanam menurut hari internasional. Minggu: bagus untuk tanam tipe tanaman kayu. Senin: cocok untuk tanaman tipe daun. Selasa: bagus untuk tanam bunga. Rabu: cocok untuk tanam pisang, khususnya pisang batu - yang dimakan tidak perlu matang. Kamis: bagus untuk tanam tipe buah. Jumat: cocok untuk tanam tipe akar. Minggu: nihil.



Nah, pemutahiran info juga... Sarapan yang tersedia pada hari ke enam Sidang Raya XVI PGI di Kampus STT Sundermann Gunung Sitoli Nias Selatan adalah nasi kuning, mie besar, dan talas...
Saya teringat pada artikel Claudia D'andrea and Sabastian Saragih: Traditional Natural Resource Adaptation in Nias Island di dalam buku saya Natural and Farming, Biodynamic Agriculture and Communal Resources Adaptation Systems. Selected Cases in Indonesia (Tjahjadi, 1993).





Talas adalah makanan pokok kedua saat ini setelah nasi... Talas (nyaris) selalu ditanam di pematang sawah, tulis Claudia dua puluh dua tahun silam (22 May 1992) sebagaimana tercetak dalam buku saya (1993).




Itulah sekilas ringkas buku saya pada bulan 22 Oktober, dan 15 November 2014.











---o0o---

Tidak ada komentar: