Senin, 27 Juli 2009

Tanam sayur "Paritta's Organic" peri-urban di Tembilahan, Riau

Catatan lapang



___Pertanian organik di daerah Indragiri Hilir (Tembilahan), Riau atau wilayah Provinsi Riau keseluruhan belum begitu dikenal luas atau diperkenalkan kepada kalangan instansi pemerintah, akademisi atau LSM lokal, kendati dalam praktek budidaya tanaman padi di areal rawa, dan sayur-sayuran sehari-hari masyarakat sudah menjalaninya. Hal ini terjadi lantaran sebagian besar areal pertanian diarahkan pada budidaya tanaman perkebunan: kelapa sawit, karet dan kelapa – di Riau terdapat pusat koleksi plasma nutfah kelapa.

___Kebutuhan pangan dan sayur–mayur masyarakat Riau nyaris bergantung sepenuhnya kepada pasokan dari provinsi tetangga, yaitu Sumbar dan Sumut.

___Kondisi lahan pertanian yang berada di dekat dengan muara sungai, dan daerah pasang surut menyebabkan wilayah pertanian di Tembilahan sangat rentan terhadap genangan air, terutama pada antara bulan Desember hingga Januari, di mana air pasang sangat tinggi selama seminggu. Meskipun demikian, dengan membuat bedengan2 yang cukup tinggi, dan di sekitar areal dibuatkan kanal-keliling, maka resiko tanaman tergenang air dapat dihindari.


Uji Coba Tanaman Sayuran di Tembilahan (Wilayah Pinggir Kota).

a. Bibit
___Pengalaman pertama yang cukup melelahkan di Tembilahan ini adalah sulitnya mendapatkan benih-benih sayuran lokal seperti bibit cabe (keriting dan rawit), bibit bayam, kacang panjang, dan lain sebagainya. Kalaupun ada itu pun menempuh jarak yang cukup jauh di daerah yang sarana transportasi umum tidak memadai dan mahal.

___Agar tidak berlama-lama, untuk mendapat benih/bibit terpaksa diperoleh dengan jalan membeli bibit sayur pabrikan, seperti cabe keriting, cabe rawit, dan patcoy. Selain itu di sekitar lahan yang hendak saya garap ada beberapa batang tanaman bayam yang sudah tua. Dan ada pula ada tambahan bibit ketimun dari seorang petani.

___Untuk mendapatkan bibit yang cukup memadai dan sekaligus uji coba terhadap kesesuaian tanah, maka dibuatlah bedeng-bedeng persemaian benih dengan ukuran masing-masing ± 1m2 (benih cabe rawit, cabe keriting, ketimun, dan patcoy). Setiap bedeng dibatasi dengan cara membuat parit berukuran lebar 60 m berkedalaman 30 cm.

___Salah satu sifat fisik tanah di Tembilahan adalah berlumpur - daerah rawa - dan apabila ketika kering, maka strukturnya akan keras. Pada tahap pertama penyemaian benih (pembibitan) terjadi kegagalan sekitar 40%. Guna menghindari agar hal ini tidak terulang kembali, maka tanah penyemaian tersebut ditambahkan pupuk kandang (fermentasi kotoran kambing yang telah mengering, sebelumnya kotoran kambing itu saya peram dalam plastik selama hampir 1 bulan) dengan dosis 1 karung beras untuk 1m2 areal semai. Kemudian ditambahkan abu organik bekas pembakaran. Sebelum disemai areal disiram dengan air sampai tanah basah dan lembab. Barulah kemudian benih disemaikan. Ini dilakukan pada sore hari (setelah cahaya matahari berkurang panasnya. Hingga 4–8 hari areal terus disiram secukupnya dengan air pada pagi dan sore harinya. Menjelang benih semai siap dipindahkan ke bedeng tanam, dilakukan pemupukan dengan cairan fermentasi kompos, pupuk kandang dan hijau-hijauan 1–2 x pemupukan. Ini dilakukan agar benih yang akan dijadikan bibit benar-benar sehat.

___Dalam hal pengendalian hama (hama utama adalah keong) saya memakai pendekatan manual saja. Sekeliling pinggir bedengan dipagari dengan jaring halus yang pada bagian bawah dibenamkan ke dalam tanah. Dari hasil ujicoba ini, ternyata bibit yang dihasilkan sangat bagus dan sehat serta seragam pertumbuhannya, terutama untuk tanaman cabe.

___Perlu saya kemukanan, bahwa pada tahap pertama untuk mendapatkan bibit yang baik adalah melalui beberapa tahap seleksi alam (penanaman yang dikontrol dalam hal unsur hara, kemungkinanan dari serangan hama dan penyakit melalui teknologi tepat guna dan ramah lingkungan).


b. Pengolahan Tanah
___Pengolahan tanah di lahan Rawa agak berbeda dengan lahan biasa, di mana karena daerah rawa kedap air sehingga tekstur tanah liat dan bila kering akan mengeras. Agar tanah tersebut strukturnya gembur, maka perlu ditambahkan pupuk kandang dalam jumlah yang agak banyak serta sekam atau bubuk pengetaman kayu yang telah dibakar (kompos ala kuntan).

___Setelah tanah diolah maka dibuat berupa guludan tanam yang berukuran lebar 1.3 m dan panjang sesuai panjang lahan (maksimal 30 m agar mudah dikontrol). Jarak antar bedengan adalah sebaiknya 40 cm. Karena di Tembilahan tinggi lapisan tanah dari permukaaan sangat tipis - sekitar 10 cm - dalam kondisi normal, maka bedengan perlu lebih ditinggikan agar tidak tergenang sewaktu pasang naik. Lahan yang saya garap tak kurang dari 300 m2 sementara yang tersedia adalah lahan tanaman utamanya tanaman coklat - cacao, sebutannya sejak lebih dari 10 tahun terakhir - seluas 10 Ha milik teman saya.

___Selanjutnya di atas guludan tanam ditaburi pupuk kandang yang telah mengering dan diaduk hingga merata sambil ditambahkan kuntan secukupnya. Agar kondisi kelembaban tanah terpelihara, maka perlu dilapisi dengan lapisan jerami atau hijau-hijauan. Hal ini selain menjaga kelembaban tanah juga berfungsi untuk memperbaiki struktur tanah, serta menguarangi pertumbuhan gulma. Hanya saja kalau terllau lembab, maka potensi resiko tanaman terkena penyakit jamur lebih tinggi.


c. Penanaman
___Jarak tanam saya disesuaikan dengan sifat tanaman yang akan ditanam dan tanaman lain yang akan ditumpangsarikan dengannya dalam satu guludan. Contohnya, tanaman cabe yang berumur sekitar 6–7 minggu hingga akhir produksi optimal akan mempunyai cabang yang akan meluas di sekiling tanaman. Maka tanaman cabe tersebut akan cocok di tanam dengan tanaman bawang daun yang berumur pendek dan fisik bawang tidak akan mengganggu tanaman cabe. Bahkan aroma bawang daun akan dapat mengusir bebeberapa hama tanaman cabe yang akan hinggap.

___Tanaman bawang daun pun dapat ditanam 2-3 x dalam 1 periode usia produktif tanaman cabe. Demikian pada tumpangsari jenis tanaman sayuran lain

___Sebagai catatan, saya hanya memilih beberapa dari koleksi daftar tumpangsari Biotani&Bahari Indonesia/ PAN Indonesia, yaitu yang agak mudah perolehan benihnya di Tembilahan Riau.


d. Pengendalian H/P.
___Dalam pertanian organik dikenal istilkah ”tak ada rotan akar pun jadi”. Artinya banyak alternatif dalam perlindungan tanaman terhadap serangan dan wabah hama dan penyakit tanaman tanpa harus menggunakan bahwan kimia sintetis. Di sini saya lebih menekankan kepada kegiatan pengamatan, sambil menyampaikan pemahaman petani akan sistem kerja alam sekitar.


e. Produksi/Panen
___Panen dalam pertanian organik biasa dilakukan hampir sepanjang tahun pada areal lahan yang tidak begitu luas. Hal ini karena pola tanamnya bukan monokultur, tetapi beragam jenis dan bergilir sesuai dengan sifat taaman dan kondisi musim. Artinya, faktor keberuntungan semakin jelas. Karena kecil kemungkinan resiko gagal panen pada semua jenis tanaman yang ditanam secara bergilir, disisip, dan beragam - tumpang sari – lihat koleksi PAN Indonesia (1985-1989, 1990-1991, 1993-1996), dan Biotani Indonesia (1996-1999, dan 2000-2003).


f. Pemasaran.
___Pemasaran, dalam kurang dari setahun ini, saya lebih mementingkan aspek sosial tanpa melupakan aspek bisnis. Target pasar jelas, dan bukan hanya ditujukan kepada konsumsi orang kaya. Pola pemasaran adalah lewat jaringan, door to door, pasar tradisional, atau dalam bentuk lain. Yang jelas baik pertanian maupun produknya adalah bukan hanya tuntutan masyarakat dunia, melainkan juga bagi konsumen lokal saat ini maupun pada masa mendatang.

___Saya telah menghitung kasar: di sekitar lahan yang saya garap ini terlihat potensi segmen pasar, yaitu guru-guru PGRI. Saya mendapat informasi koperasi PGRI setempat beranggotakan sebanyak 2.000 orang, dan beberapa swalayan-mini, maupun warung biasa, maka sudah pasti klabakan jika mereka berminat. Dalam coret-coretan gagasan saya akan namai produk organik "Paritta's Organic". Kata Paritta = parit 3, nama tempat kebun dan saya berdomisi saat ini. Untuk promosi saya telah membuat brosur, tinggal menyebarkan ke kantor-kantor instansi pemda. Saya juga akan sebarkan kuesioner untuk memperoleh data dasar calon konsumen. Pada waktunya.saya akan kenalkan sistem "member" (kartu) kepada guru-guru anggota koperasi PGRI. Harga jual sekitar Rp1.000 hingga Rp 5.000 per paket (3-4 produk, total tak lebih dari 1,5 kg) per konsumen. Adapun pembayaran konsumen dilakukan pada setiap akhir atau awal bulan, yaitu koperasi - tanpa komisi - yang akan menagih atau memotong gaji guru yang bersangkutan. Tetapi pada dasarnya saya akan membatasi kuantitas dan pasokan pada beberapa produk saja per konsumen. Dalam pandangan saya, konsumen perlu juga diberi pemahaman agar tidak serakah, melainkan berbagi dengan orang lain, dan juga kepada alam. Sedangkan kepada pedagang sayur asal pasokan Sumbar dan Sumut, ya, saya katakan hanya ujicoba semata.

___Saya perlu mengungkapkan, besar kemungkinan gagasan itu terhenti selama beberapa waktu terhitung medio Mei lalu. Ini karena saya tidak tahan asap dari pembakaran untuk pembukaan lahan yang marak di Riau belakangan ini; sedangkan tanamannya bukan "daging asap", melainkan "sayur asap". Tetapi yang terpenting saya harus cari tambahan modal. Tanpa hal itu, maka gagasan itu akan bergantung di awang-awang bak angan-angan belaka. Sementara ini, seorang petani setempat kini melanjutkan sistem dan pola yang saya praktekkan selama nyaris selama 8 bulan.



Date: Fri, 10 Jul 2009 18:36:20 +0200 [Friday, 10. July 2009 11:36:20 PM WIT], 10 Mei 09 23:20, dan 02 Jan 09; 17:12.

Fendi YS, relawan lapang Biotani&Bahari Indonesia.

---

Revisi, 27 Juli dari versi 13 Juli

---oo0oo---

2 komentar:

fendi KOTO mengatakan...

Paritta adalah akronis dari nama lokasi saya di Tembilahan, yakni Parit Tiga. Kabupaten Indragiri Hilir lebih diokenal sebagai negeri seribu parit.

fendi KOTO mengatakan...

Meneganai Kegiatan Paritta's Organik saat ini adalah membangun link2 pasar organik di kota Pekanbaru karena saat ini aktivitas di lahan sedang vakum. Namun kelanjutan oleh teman2 dalam bentuk pertanian organik sederhana masih berlangsung, khususnya pada komodistas pangan (padi) dan jagung. Kenapa di pilih kota Pekanbaru adalah karena tingkat kansumsi masayrakat di perkotaan cukup tinggi dan kerinduan akan pangan serta sayur-masyur higeinis serta alami mulai tampak. Paritta juga selain bergerak di bidang organik farming sebagai kegiatan lingkungan, juga bergerak di bidang seni advertising. Untuk jelasnya dapat dilihat di website www.paritta-adv.yolasite.com